Bocah 5 Tahun Di Perkosa Dan Dibunuh Keluarga Sendiri

indonesiawowbanget.web.id Brutal,Sadis,Itu yang kita rasakan dan bisa dengar ketika kita mendengar berita tersebut,pemerkosaan dan pembunuhan di dunia kriminal adalah hal yang sangat normal tapi jika dilakukan sekaligus oleh anggota keluarga akan terasa sangat menyedihkan,Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Bocah 5 Tahun Di Perkosa Dan Dibunuh Keluarga Sendiri Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Bocah 5 Tahun Di Perkosa Dan Dibunuh Keluarga Sendiri

Kasus kematian NP, bocah perempuan berusia 5 tahun yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan di Sukabumi, Jawa Barat, oleh ibu dan dua kakak angkatnya menjadi perhatian semua pihak. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan, skandal inses, pemerkosaan, dan pembunuhan bocah lima tahun oleh ibu dan kakak angkat di Sukabumi, merupakan kejadian luar biasa. Bahkan, Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengaku kecolongan atas peristiwa skandal inses, pemerkosaan dan pembunuhan bocah lima tahun yang terjadi di daerahnya.Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan, skandal inses, pemerkosaan, dan pembunuhan bocah lima tahun oleh ibu dan kakak angkat di Sukabumi, Jawa Barat, merupakan kejadian luar biasa. “Peristiwa ini luar biasa. Secara pribadi lembaga belum pernah mendapatkan kasus seperti ini,” ungkap Arist kepada wartawan setelah selesai menemui dan berdialog dengan tiga tersangka di Mapolres Sukabumi Kota, Selasa (1/10/2019).

Menurut Arist, peristiwa ini jangan dianggap sederhana, dan harus dijadikan sebagai momen untuk menggerakkan masyarakat khususnya di Sukabumi dan Jawa Barat bahkan di Indonesia dalam perlindungan anak. Karena dalam kasus ini, ibunya itu yang justru bernisiasi mengajak anaknya untuk melakukan hubungan seksual.

Tentunya ada alasan yang melatarbelakanginya, yaitu karena hubungan dengan suaminya tidak intens. “Ketika dia (tersangka SR) melakukan hubungan itu seperti dengan orang lain. Aksi hubungannya (ibu dengan anak kandung) ini sudah lebih sekali, pengakuannya sejak Agustus tahun ini,” ujar Arist. Suami tersangka bekerja secara serabutan dan jarang pulang. Setelah pulang ke rumah, suaminya tidur di ruang tamu. Suam tersangka hanya memenuhi kebutuhan ekonomi meskipun tidak berlebihan. “Pengaruh ekonomi memang ada. Namun yang dominan karena suaminya yang jarang pulang. Suaminya hanya bertanggung jawab secara ekonomi saja, tapi tidak memenuhi kebutuhan biologis,” ujar Arist.

Sebelumnya diberitakan, jenazah NP ditemukan dalam kondisi tidak wajar di Sungai Cimandiri, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (22/9/2019) siang. Anak perempuan itu tewas dibunuh oleh ibu dan kakak angkatnya, SR dan RG. Sebelum dibuang ke sungai, bocah malang ini sempat diperkosa RG dan adiknya, R. Polisi kemudian menangkap tiga pelaku. Pemerkosaan dan pembunuhan terjadi di rumah kontrakan pelaku di Kampung Bojongloa, Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Minggu (22/9/2019) pagi. Kasus ini dilimpahkan dari Polres Sukabumi ke Polres Sukabumi Kota, Selasa (24/9/2019). Dari hasil penyelidikan, SR, RG, dan R yang merupakan ibu dan anak sering melakukan hubungan intim.

1. Kejadian luar biasa
Arist mengatakan, skandal inses yang terjadi di Sukabumi merupakan kejadian yang luar biasa, ia pun mengaku pihaknya belum pernah mendapatkan kasus seperti ini. “Peristiwa ini luar biasa. Secara pribadi lembaga belum pernah mendapatkan kasus seperti ini,” ungkap Arist kepada wartawan setelah selesai menemui dan berdialog dengan tiga tersangka di Mapolres Sukabumi Kota, Selasa (1/10/2019). Menurut Arist, peristiwa ini jangan dianggap sederhana, dan harus dijadikan sebagai momen untuk menggerakkan masyarakat khususnya di Sukabumi dan Jawa Barat bahkan di Indonesia dalam perlindungan anak.

2. Hubungan dengan suami yang tak intens
Arist mengungkapkan, terjadinya kasus ini karena hubungan tersangka SR dengan suaminya tidak intens. “Ketika dia (tersangka SR) melakukan hubungan itu seperti dengan orang lain. Aksi hubungannya (ibu dengan anak kandung) ini sudah lebih sekali, pengakuannya sejak Agustus tahun ini,” katanya. Dijelaskan Arist, suami tersangka bekerja secara serabutan dan jarang pulang, setelah pulang ke rumah, suaminya tidur di ruang tamu. Suami tersangka ini hanya memenuhi kebutuhan ekonomi meskipun tidak berlebihan. “Pengaruh ekonomi memang ada. Namun yang dominan karena suaminya yang jarang pulang. Suaminya hanya bertanggung jawab secara ekonomi saja, tapi tidak memenuhi kebutuhan biologis,” ujarnya.

3. Berpengaruh pada predikat Kota Sukabumi
Fahmi menilai, dengan adanya kasus sadis ini akan berpengaruh pada predikat Kota Sukabumi sebagai kota layak anak. “Ya berpengaruh dalam konteks ini. Itu yang membuat kita sedih dan prihatin dalam konteks itu,” ujarnya usai menghadiri pelantikan dan pengambilan sumpah janji para pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi di Gedung Juang, Selasa (1/10/2019). Dengan adanya kasus tersebut, Pemkot Sukabumi akan melakukan langkah-langkah antisipasi, Di antaranya meningkatkan pemantauan kondisi-kondisi di wilayahnya melalui camat dan lurah. Pemkot Sukabumi juga berkomunikasi terkait ketahanan keluarga, serta melakukan pembinaan wilayah. SKPD terkait juga diminta melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. “Bagi kami terkait ketahanan keluarga ini menjadi sesuatu yang penting dan melibatkan Dinas Dalduk KB karena yang langsung menangani masalah keluarga,” ujarnya.

4. Peragakan 34 adegan
Kepala Polres Sukabumi Kota AKBP Wisnu Prabowo mengatakan, Polres Sukabumi Kota menggelar rekonstruksi perkara pemerkosaan dan pembunuhan NP bocah lima tahun yang ditemukan tewas di Sungai Cimandiri, Senin (30/9/2019). Dia menuturkan karena tempat kejadian perkara yang tak kondusif untuk dilaksanakan rekontruksi dan dua tersangka masih di bawah umur, maka rekontruksis dilakukan di ruang Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Sukabumi Kota. Dalam rekontruksi tersebut, polisi menghadirkan ketiga tersangka yakni SR alias Yuyu (39), RG (16) dan R (14), dalam rekonstruksi itu juga disaksikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sukabumi. “Ada 34 adegan yang diperagakan tiga tersangka dalam rekonstruksi,” katanya dalam konferensi pers di Polres Sukabumi Kota, Senin (30/9/2019) petang.